Kiyai Syattar, Sosok Sederhana yang Menyimpan Kedalaman Spiritual
Siapa sangka, di sebuah desa yang tampak biasa, tepatnya di Jalan Mesjid, Desa Sugiharjo, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, hidup seorang sosok yang oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai pribadi sederhana.
Dialah Kiyai Syattar.
Dalam kesehariannya, ia tidak menampilkan diri sebagai orang besar. Kepeduliannya terhadap sesama warga, kebiasaannya berbagi tali asih, serta sikapnya yang selalu dekat dengan masyarakat membuat dirinya dipandang sebagai orang biasa yang penuh perhatian.
Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan perjalanan spiritual yang tidak banyak diketahui orang. Sebuah perjalanan panjang dalam mendalami ilmu tasawuf dan menempuh jalan berbagai thariqat. Sosok yang oleh sebagian orang diyakini sebagai wali tersembunyi.
Rumah Sederhana, Pusat Perjalanan Ruhani
Tidak banyak warga yang mengetahui bahwa Kiyai Syattar merupakan Guru Besar sekaligus Mursyid Thariqat Syatariyah wa Naqsyabandiyah. Ia disebut telah menyelesaikan pendalaman lima thariqat setelah bertahun-tahun menimba ilmu dan menjalani perjalanan spiritual di Pulau Jawa.
Di kediamannya terdapat rumah ibadah suluk, tempat para salik menjalani amalan dzikir dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Rumah tersebut bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan tempat pembinaan ruhani bagi mereka yang ingin menempuh jalan menuju kebersihan hati dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Menariknya, rumah yang ditempati sehari-hari bukan satu-satunya tempat yang dimilikinya untuk menerima tamu. Ada sebuah rumah lain yang secara khusus digunakan untuk menerima para tamu, termasuk pejabat dan tokoh-tokoh tertentu.
Lokasinya sekitar satu kilometer dari rumah tinggalnya. Uniknya, rumah itu juga berada di Jalan Mesjid. Di tempat tersebut kini dikenal nama Dzulkarnaen, yang menurut penuturan kisah ini merupakan gelar kesyekhan yang diperolehnya dari Thariqat Naqsyabandiyah Jalalliyah Bandar Tinggi, Simalungun, Sumatera Utara.
Dengan adanya tempat khusus tersebut, para tamu dapat berbincang dan menyampaikan keperluannya tanpa mengganggu para salik yang sedang melaksanakan ibadah dzikir dan tawajuh.
Doa yang Menjadi Harapan Banyak Orang
Sebagai sosok yang dikenal memiliki kedalaman ilmu agama dan kehidupan spiritual, Kiyai Syattar kerap didatangi orang-orang dari berbagai kalangan.
Ada yang datang membawa harapan tentang masa depan, ada yang meminta nasihat, ada pula yang memohon doa untuk menghadapi persoalan kehidupan.
Dalam kisah orang-orang yang pernah datang kepadanya, disebutkan ada yang kemudian memperoleh amanah sebagai Wakil Bupati, ada yang menjadi anggota dewan, bahkan ada pula yang datang ketika sedang menghadapi persoalan hukum.
Tidak sedikit pula orang yang datang karena masalah kesehatan. Ada yang sebelumnya telah menjalani pemeriksaan medis, tetapi belum menemukan jawaban atas keluhan yang dirasakan. Mereka kemudian datang untuk meminta doa dan ketenangan batin.
Tentu, segala kesembuhan, keberhasilan, dan pertolongan tetaplah milik Allah SWT. Manusia hanya berusaha, berdoa, dan berharap kepada-Nya.
Mengapa Selalu Dijemput?
Kini, menjadi semakin masuk akal mengapa Kiyai Syattar kerap dijemput oleh orang-orang yang memiliki berbagai keperluan.
Bukan hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari negara-negara tetangga. Malaysia, Singapura, Thailand, dan beberapa tempat lainnya pernah menjadi tujuan perjalanan dakwah maupun kunjungannya.
Ada yang mengundangnya untuk bersilaturahmi, meminta nasihat, memohon doa, hingga keperluan lainnya.
Barangkali, di sinilah letak keunikan sosok Kiyai Syattar. Di kampungnya ia tetap tampil sederhana, sementara di luar sana banyak orang mengenalnya melalui perjalanan ilmu, pengabdian, dan hubungan spiritualnya.
Lima Thariqat, Mengapa Hanya Dua Nama?
Ada satu hal menarik yang patut menjadi pertanyaan.
Jika Kiyai Syattar telah menyelesaikan pendalaman lima thariqat selama perjalanan keilmuannya, mengapa majelis dzikir yang dibangunnya hanya menggunakan nama dua Thariqat
yakni Syatariyah wa Naqsyabandiyah?
Ternyata, pemilihan dua nama tersebut bukan berarti mengabaikan thariqat lainnya. Keduanya menjadi identitas majelis yang menaungi perjalanan dzikir dan pembinaan para salik.
Mungkin ada pertimbangan tersendiri di balik pilihan itu. Sebab, apabila kelima thariqat tersebut seluruhnya dicantumkan sebagai nama majelis, bisa saja menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, nama bukanlah ukuran kedalaman ilmu. Bukan pula banyaknya gelar atau sebutan yang menentukan kemuliaan seseorang.
Sebab, dalam perjalanan menuju Allah SWT, yang terpenting bukanlah bagaimana seseorang dikenal manusia, melainkan bagaimana ia menjaga keikhlasan, kerendahan hati, dan pengabdiannya kepada Allah.
Wali Tersembunyi.
Sebuah sebutan yang mengundang rasa ingin tahu. Sosok yang tidak sibuk memperkenalkan dirinya, tetapi perjalanan kehidupannya menyimpan banyak kisah untuk ditelusuri.
Dan mungkin, justru di balik kesederhanaan itulah tersimpan pelajaran besar: bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari penampilan luarnya.(***)






