OPINI  

POLIRAN: SINERGI POLRI-KEMENDES PDT PENGANGGURAN DIBERI KERJAAN

Oleh : Suardi, SH

Kapolri Suyudi
DomaiNesia

Dari Pengangguran Menuju Kemandirian, Dari Rehabilitasi Menuju Produktivitas

Luar biasa! Kinerja Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto patut mendapat apresiasi. Setelah gebrakan awal kepemimpinannya dengan melakukan rotasi terhadap 88 personel Polri hanya dalam dua hari kerja, kini muncul gagasan lain yang tidak kalah menarik, yakni membangun sinergi antara Polri dan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).

Program ini diberi nama POLIRAN, singkatan dari Polisi Peduli Pengangguran.

Sebuah gagasan yang tidak hanya melihat persoalan pengangguran dari sisi ekonomi, tetapi juga dari perspektif keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).

Tujuannya sederhana, tetapi memiliki dampak yang besar. Masyarakat yang belum memiliki pekerjaan, termasuk mereka yang pernah terjerat penyalahgunaan narkotika dan telah menjalani rehabilitasi, akan dibina, dilatih, kemudian disalurkan untuk mendapatkan pekerjaan melalui perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

Kapolri menjelaskan bahwa pengangguran berpotensi menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gangguan Kamtibmas. Karena itu, Polri tidak cukup hanya hadir ketika terjadi tindak kriminal, tetapi juga harus mengambil bagian dalam mencegah munculnya persoalan sosial sejak awal.

“Kenapa kita memiliki kepedulian terhadap pengangguran? Karena pengangguran ini berpotensi gangguan Kamtibmas. Sehingga kita juga berkolaborasi dengan Kementerian Desa,” terang Kapolri.

Pola pelaksanaannya akan melibatkan Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak di tengah masyarakat, dibantu para pendamping desa untuk mendata dan merekrut warga yang membutuhkan pekerjaan.

Selanjutnya, mereka akan diberikan pelatihan melalui kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan memanfaatkan Balai Latihan Kerja (BLK) yang ada di daerah. Setelah memiliki keterampilan, mereka akan disalurkan kepada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

Program ini juga akan diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama dengan kementerian terkait serta pemerintah daerah.

Launching Poliran direncanakan berlangsung secara nasional. Saat ini, berbagai persiapan sedang dilakukan agar program tersebut dapat berjalan secara terarah dan berkesinambungan.

Menyelamatkan Mereka yang Pernah Terjerat Narkoba

Ada satu hal menarik dari program Poliran ini. Sasarannya bukan hanya masyarakat yang belum mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mereka yang pernah mengalami ketergantungan narkotika dan telah menjalani rehabilitasi.

Persoalannya, tidak sedikit orang yang setelah menjalani rehabilitasi justru kembali terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkoba. Salah satu penyebab yang perlu mendapat perhatian adalah sulitnya memperoleh pekerjaan dan kembali diterima di tengah masyarakat.

Di sinilah Poliran diharapkan mengambil peran.

Mereka tidak cukup hanya direhabilitasi, tetapi juga harus diberikan kesempatan untuk membangun kehidupan baru. Dibekali keterampilan, diberikan akses pekerjaan, dan dibantu agar dapat kembali mandiri secara ekonomi.

Polri juga menyebut telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan untuk memberikan pembekalan, termasuk keterampilan sosial atau soft skill.

Dengan demikian, seseorang yang pernah terjerat narkoba tidak selamanya harus hidup dengan stigma masa lalunya. Mereka tetap memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, bekerja, dan menjadi bagian produktif dari masyarakat.

Polisi Tidak Hanya Menangkap, tetapi Juga Memberdayakan

Inilah sisi lain dari pendekatan Polri yang patut diapresiasi.

Selama ini, masyarakat lebih sering melihat tugas polisi dalam konteks penegakan hukum, penangkapan pelaku kejahatan, dan penanganan gangguan keamanan. Padahal, tugas menjaga Kamtibmas juga dapat dilakukan melalui langkah-langkah pencegahan dan pemberdayaan masyarakat.

Pengangguran bukan semata-mata persoalan seseorang belum memiliki penghasilan. Dibalik itu ada persoalan keluarga, kebutuhan hidup, masa depan anak-anak bahkan potensi munculnya masalah sosial.

Kenterian Kesehatan, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa, hingga dunia usaha.

Perusahaan juga diharapkan membuka kesempatan bagi peserta yang telah mengikuti pelatihan agar benar-benar mendapatkan pekerjaan.

Harapan Kita

Poliran bukan sekadar program kepolisian yang memiliki nama menarik. Lebih dari itu, program ini diharapkan menjadi jembatan bagi masyarakat yang selama ini kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Jika berjalan sebagaimana yang diharapkan, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Pengangguran berkurang, mantan pengguna narkoba memiliki kesempatan memulai kehidupan baru, kesejahteraan keluarga meningkat, dan potensi kriminalitas dapat ditekan.

Pada akhirnya, keamanan dan ketertiban masyarakat tidak hanya dibangun dengan penegakan hukum, tetapi juga dengan membuka kesempatan hidup yang lebih baik.

Sebab, masyarakat yang memiliki pekerjaan, penghasilan, dan harapan masa depan tentu akan lebih kuat dalam menjaga kehidupan sosialnya.

Inilah esensi Poliran: Polisi Peduli Pengangguran.

Polisi hadir bukan hanya ketika masyarakat menghadapi masalah, tetapi juga ikut mencarikan jalan keluar agar masyarakat tidak terjerumus ke dalam masalah.

Semoga Poliran benar-benar terwujud, bukan hanya menjadi program di atas kertas, melainkan menjadi gerakan nasional yang manfaatnya dirasakan hingga ke pelosok desa.

Bravo Polri. Polisi bersama masyarakat, membangun masyarakat yang aman, mandiri, dan produktif.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *