OPINI  

Dwi Putri Ayu, Nama Cucu Pemberian Almarhum Tuan Guru Dr. Syekh Salman Da’im

Oleh: Syekh Muda Qamaruddin

Dwi Putri Ayu (duduk) dan Mbaknya Fildzah Audy Ningrum
DomaiNesia

Ada kenangan yang mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang, tetapi menyimpan makna begitu mendalam bagi mereka yang mengalaminya. Waktu boleh berlalu, seseorang boleh berpulang, tetapi kenangan dan kebaikan yang pernah ditinggalkannya akan tetap hidup di hati orang-orang yang mengenangnya.

Begitulah kenangan saya bersama almarhum Buya Dr. Syekh Salman Da’im, Guru Besar (Mursyid) Thariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah (TNAJ), Bandar Tinggi, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Dari sekian banyak kenangan yang tidak terlupakan, salah satunya adalah ketika beliau memberikan sebuah nama yang indah untuk cucu saya, Dwi Putri Ayu. Nama tersebut diberikan langsung oleh beliau dan hingga kini tetap melekat sebagai pengingat akan sosok guru yang pernah hadir memberikan warna dalam perjalanan kehidupan keluarga kami.

Rumah Menjadi Tempat Pengajian

Dahulu, rumah saya pernah menjadi tempat berlangsungnya pengajian yang dipimpin langsung oleh Mursyid TNAJ, almarhum Buya Dr. Syekh Salman Da’im.

Jemaah yang hadir bukan hanya berasal dari Medan dan sekitarnya. Ada pula yang datang dari Batang Kuis, Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, serta berbagai daerah lainnya.

Mereka datang dengan satu tujuan, yakni mengikuti pengajian dan memperoleh bimbingan langsung dari sang Mursyid.

Seiring bertambahnya jumlah jemaah, halaman rumah saya yang cukup luas pun dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan keagamaan, termasuk pelaksanaan salat pada hari-hari besar Islam. Bahkan, jumlah jemaah yang hadir bisa mencapai ratusan orang.

Melihat perkembangan tersebut, Buya pernah meletakkan dasar dan menetapkan sejumlah persyaratan untuk pembangunan sebuah majelis di belakang rumah saya. Namun, setelah kemudian diperoleh sebidang tanah yang lebih luas, yakni tanah eks PTP yang diberikan oleh almarhum Tonggam Gultom, rencana pembangunan majelis akhirnya dialihkan ke lokasi tersebut.

Kepercayaan Seorang Guru
Hubungan saya dengan almarhum Buya bukan sekadar sebatas tempat penyelenggaraan pengajian.

Dalam berbagai kegiatan besar, beliau juga kerap memberikan kepercayaan kepada saya untuk turut membantu pelaksanaannya.

Ada satu hal yang selalu membekas dalam ingatan saya. Terkadang, ketika saya belum pulang ke rumah, Buya justru sudah lebih dahulu datang.

Bahkan, ketika ada kegiatan di rumah, hujan sekalipun tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk hadir.

Bagi saya, sikap tersebut merupakan kenangan tersendiri. Di dalamnya tersimpan ketulusan, kedekatan, dan kesungguhan seorang guru dalam membina serta mendampingi jemaahnya.
Ketika para jemaah hendak mengikuti proses kuliah atau pembelajaran, saya juga diberi kepercayaan untuk menghubungi pihak-pihak tertentu demi kelancaran kegiatan tersebut.

Saya masih ingat, ketika para jemaah mulai mengikuti kuliah, beberapa di antaranya, seperti Tuan Guru Syekh Muda Sazal, Syekh Muda Ruslan Suaeb, dan almarhum Syekh Muda Rahman, pernah menginap di rumah saya.
Semua itu kini menjadi bagian dari perjalanan kenangan yang begitu berharga dan sulit dilupakan.

Kenangan yang Tak Bisa Terulang

Waktu terus berjalan. Orang-orang yang dahulu berkumpul untuk mengaji, beribadah, dan mengikuti berbagai kegiatan majelis kini telah menempuh perjalanan masing-masing.

Sementara itu, sosok yang dahulu menjadi pusat pembinaan dan tempat kami memperoleh bimbingan telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah SWT.

Kini, pengajian yang dahulu berlangsung di rumah saya sudah tidak ada lagi. Majelis yang pernah direncanakan pun belum terwujud sebagaimana harapan semula.

Namun, ada satu peninggalan kenangan yang tetap hidup dan tidak akan pernah hilang, yakni nama Dwi Putri Ayu, nama cucu saya yang diberikan langsung oleh almarhum Buya Dr. Syekh Salman Da’im.

Mungkin bagi orang lain, itu hanyalah sebuah nama. Namun, bagi keluarga kami, nama tersebut menyimpan kisah, sejarah, dan ikatan kenangan dengan seorang guru yang sangat kami hormati.

Almarhum Buya memang telah tiada. Namun, kebaikan, kepercayaan, dan kenangan yang pernah beliau tinggalkan tidak ikut terkubur bersama kepergiannya.

Nama itu tetap ada. Kenangan itu tetap hidup. Dan sosok guru yang pernah memberikannya akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati kami.

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum Buya Dr. Syekh Salman Da’im, mengampuni segala khilaf dan dosanya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.(Aamiin ya Rabbal ‘alamin.)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *