Sosok  

Paku Sumatera Kiyai Syattar: Semua Penyakit Bisa Diobati

Oleh : Suardi, SH

Kiyai Syattar, ketika menjenguk saudaranya Syekh Muda Abdul Wahid di T.Morawa
DomaiNesia

Yang menyembuhkan adalah Allah. Manusia hanyalah perantara melalui ilmu dan ikhtiar yang dimilikinya.

Paku Sumatera, Kiyai Syattar, pernah mengungkapkan sebuah pemikiran yang menarik tentang penyakit dan kesembuhan. Menurutnya, semua penyakit bisa diobati. Namun, siapa yang sakit dan siapa yang mengobati, semuanya tetap berada dalam kehendak Allah SWT.

“Yang sakit siapa, yang mengobati siapa. Semua itu karena Allah,” demikian inti pemikiran yang disampaikannya.

Bagi Kiyai Syattar, seorang dokter dapat mengobati pasien dengan ilmu medis yang dipelajarinya. Sementara itu, orang yang memiliki kemampuan pengobatan alternatif dapat membantu melalui ilmu yang dimilikinya. Keduanya sama-sama melakukan ikhtiar sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan masing-masing.

Namun, manusia harus memahami bahwa ilmu dan usaha hanyalah bagian dari ikhtiar. Kesembuhan pada akhirnya merupakan kehendak Allah SWT. Karena itu, setiap upaya pengobatan hendaknya dilakukan dengan penuh tanggung jawab, tanpa melupakan doa dan tawakal kepada-Nya.

Kekuasaan dan Kehendak Allah

Pemikiran Kiyai Syattar tidak hanya berbicara tentang penyakit dan kesembuhan. Ia juga mengaitkannya dengan kehidupan manusia, termasuk ketika seseorang berusaha meraih suatu jabatan.

Menurut pandangannya, seseorang yang berhasil menduduki jabatan tidak terlepas dari izin Allah. Ada berbagai jalan yang ditempuh manusia untuk meraih kedudukan. Ada yang mengandalkan kekuatan, pengaruh, strategi, dan kekuasaan. Ada pula yang berusaha melalui pendekatan pribadi, sehingga mampu memperoleh kepercayaan orang lain.

Sebagian proses itu dapat dilihat secara nyata, sementara sebagian lainnya berlangsung melalui hal-hal yang tidak mudah dipahami manusia. Namun, apa pun jalan yang ditempuh, manusia tetap harus menyadari bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang abadi dan bukan pula alasan untuk berlaku sewenang-wenang.

Jabatan seharusnya menjadi amanah untuk berbuat baik, bukan kesempatan untuk menindas atau merugikan orang lain.

Dalam kehidupan ini, manusia menyaksikan berbagai pasangan dan perbedaan: siang dan malam, senang dan susah, serta berbagai keadaan yang silih berganti. Semua itu mengingatkan kita akan keterbatasan manusia di hadapan kebesaran Allah SWT.

Bagi Kiyai Syattar, inti dari pemahaman tersebut adalah menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Karena itu, jangan sampai seseorang merasa paling berkuasa, paling pintar, atau paling mampu, hingga melupakan Sang Pencipta.

Apa pun ilmu yang dimiliki, setinggi apa pun jabatan yang diduduki, manusia tetaplah hamba Allah.

Ilmu untuk Menolong Sesama

Kiyai Syattar memahami bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan jalan pengabdiannya masing-masing. Ada yang mengabdikan diri melalui ilmu kedokteran, ada yang menolong melalui kemampuan pengobatan alternatif, dan ada pula yang membantu dengan tenaga, perhatian, maupun materi.

Ia sendiri berusaha menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk membantu orang lain. Ketika menjumpai orang sakit, ia berupaya memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuannya.

Ia juga memahami bahwa tidak semua penyakit dapat ditangani melalui kemampuan yang dimilikinya. Untuk penyakit seperti diabetes, gangguan lambung, dan berbagai penyakit lain yang memerlukan penanganan medis, dokter dan tenaga kesehatan tetap memiliki peran penting.

Karena itulah, ketika ada orang sakit yang tidak dapat ia bantu secara langsung melalui ilmunya, ia berusaha membantu dengan cara lain, termasuk meringankan biaya pengobatan jika ia mampu.

Baginya, menolong orang sakit tidak selalu harus dilakukan dengan mengobati penyakitnya. Terkadang, bantuan materi, perhatian, dan kepedulian justru menjadi pertolongan yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang menghadapi kesulitan.

Sebab, ketika seseorang jatuh sakit, yang dibutuhkan bukan hanya pengobatan bagi tubuhnya, melainkan juga kekuatan bagi hatinya.

Menjenguk Saudara yang Sedang Sakit

Sikap kepedulian itu terlihat pula ketika Kiyai Syattar menyempatkan diri menjenguk saudara seperguruannya dalam Tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Muda Abd. Wahid, yang sedang menderita diabetes.

Di tengah kesibukannya menerima tamu yang datang ke rumah, Kiyai Syattar tetap berusaha meluangkan waktu untuk melihat keadaan saudaranya tersebut, meskipun hanya sebentar.

Kunjungan itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi orang yang sedang sakit, kehadiran seorang saudara dapat memberikan kebahagiaan dan kekuatan tersendiri.

Ada kalanya orang yang sakit tidak membutuhkan banyak kata. Cukup dengan kehadiran seseorang yang peduli, ia dapat merasakan bahwa dirinya tidak dilupakan dan tidak menghadapi kesulitannya seorang diri.

Dari pengalaman itulah, Kiyai Syattar merasa heran apabila ada orang yang tidak peduli ketika mengetahui saudaranya sedang sakit.

Terlebih lagi jika orang tersebut merupakan saudara seperguruan, yang semestinya memiliki ikatan persaudaraan dan kepedulian.

Bukankah persaudaraan tidak hanya terjalin ketika kita duduk bersama dalam keadaan sehat dan bahagia?

Persaudaraan justru diuji ketika salah seorang di antara kita sedang mengalami kesulitan.

Menjenguk Adalah Wujud Kasih Sayang

Menjenguk orang sakit bukan sekadar datang, duduk sebentar, lalu pulang. Lebih dari itu, menjenguk merupakan bentuk perhatian, penghormatan, dan kasih sayang kepada sesama.

Kehadiran kita dapat menghibur orang yang sedang sakit, mengurangi rasa kesepian, serta menguatkan hatinya agar tetap tabah menjalani proses pengobatan.

Ucapan sederhana seperti, “Semoga lekas sembuh, tetap sabar, dan jangan putus asa,” dapat menjadi penyemangat yang berarti.

Begitu pula doa yang tulus, yang menunjukkan bahwa kita turut berharap akan kesembuhannya.

Dalam ajaran Islam, menjenguk orang sakit merupakan salah satu bentuk kepedulian yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memperhatikan sesama,
termasuk mereka yang sedang mengalami penderitaan.
Terlebih lagi jika yang sakit adalah saudara seperguruan. Ikatan yang terjalin melalui perjalanan spiritual semestinya menumbuhkan kasih sayang, bukan hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam perbuatan.

Jangan sampai kita rajin berbicara tentang persaudaraan, tetapi lupa hadir ketika saudara kita membutuhkan perhatian.
Jangan pula kita merasa telah memiliki ilmu yang tinggi, sementara hati kita belum tergerak untuk menolong orang yang sedang mengalami kesusahan.
Ilmu, Iman, dan Kepedulian
Dari pemikiran dan sikap Kiyai Syattar, ada pesan penting yang patut direnungkan: ilmu hendaknya membawa manfaat, kekuasaan hendaknya melahirkan tanggungjawab, dan keyakinan kepada Allah hendaknya menumbuhkan kebaikan terhadap sesama.

Ilmu bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk menolong. Jabatan bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk mengabdi.

Sementara itu, pemahaman tentang kehendak Allah bukanlah alasan untuk berpangku tangan, melainkan dorongan agar manusia terus berikhtiar dan berbuat baik.
Begitu pula ketika seseorang jatuh sakit. Kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa kesembuhan berada di tangan Allah. Kita juga perlu melakukan sesuatu yang bermanfaat: membantu mencari pengobatan, memberikan dukungan, meringankan beban, dan mendoakannya.

Sebab, kepedulian tidak selalu diukur dari seberapa besar bantuan yang kita berikan. Terkadang, kunjungan singkat, sapaan yang tulus, atau doa

Terkadang, kunjungan singkat, sapaan yang tulus, atau doa yang dipanjatkan dengan penuh kasih sayang sudah menjadi penguat bagi orang yang sedang berjuang menghadapi sakitnya.

Pada akhirnya, ilmu boleh berbeda, kemampuan boleh tidak sama, dan jalan pengabdian boleh beragam.

Namun, tujuan kita hendaknya tetap satu: menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Sebab, salah satu tanda baiknya hubungan seorang hamba dengan Allah adalah tumbuhnya kepedulian terhadap makhluk-Nya.

Semoga kita tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga ringan melakukannya. Dan semoga Allah SWT memberikan kesembuhan kepada saudara-saudara kita yang sedang sakit, menguatkan hati mereka, serta membalas setiap ketulusan orang-orang yang merawat, menjenguk, membantu, dan mendoakan mereka.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *