Sosok  

KAMERA WARTAWAN, IKUT ANDIL MENGUKIR PRESTASI LETKOL PNB ERWIN, PRAJURIT TNI AU

Oleh Suardi, SH

DomaiNesia

Berawal dari sebuah kamera pinjaman, sebuah jepretan menjadi bagian penting dalam misi pencarian pesawat AirAsia QZ8501.

Jalan menuju kesuksesan memang tidak pernah bisa ditebak. Terkadang, sebuah peristiwa yang tampak sederhana justru menjadi titik penting dalam perjalanan hidup seseorang. Bagi manusia, semua itu mungkin terlihat sebagai kebetulan. Namun, bagi orang yang beriman, tidak ada yang luput dari ketetapan Allah SWT.

Kisah itu tergambar dalam perjalanan karier Letkol Penerbang (Pnb) Erwin Tri Prabowo, prajurit TNI Angkatan Udara yang pernah mencatatkan peran penting dalam operasi pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di perairan Laut Jawa pada penghujung tahun 2014.

Saat peristiwa itu terjadi, Erwin masih berpangkat Letnan Satu (Lettu) dan bertugas sebagai kopilot atau co-pilot pesawat Hercules A-1319. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, sebuah kamera pinjaman dari seorang wartawan akan menjadi alat yang membantunya merekam salah satu temuan penting dalam operasi pencarian tersebut.

Sebuah Kamera, Sebuah Temuan Penting

Di tengah luasnya hamparan laut, Erwin melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Berbekal kamera yang dipinjam dari wartawan, ia berusaha mengabadikan objek yang terlihat mengapung di permukaan air.

Dalam jepretan kamera itu, tampak sesosok manusia yang terombang-ambing di lautan. Bahkan, dari pengamatannya saat itu, sosok tersebut terlihat seperti sedang melambaikan tangan. Selain itu, tampak pula pelampung berwarna oranye, sebuah koper berwarna cerah, serta puing-puing berwarna putih.

Temuan tersebut bukan sekadar gambar biasa. Di tengah upaya pencarian pesawat AirAsia QZ8501 yang menghubungkan Surabaya dan Singapura itu, setiap petunjuk sekecil apa pun memiliki arti penting bagi tim pencari dan penyelamat atau Search and Rescue (SAR).

Erwin kemudian melaporkan temuannya melalui radio. Setelah itu, pesawat Hercules A-1319 mendarat di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, untuk melakukan koordinasi lebih lanjut dengan unsur SAR lainnya.

Pada saat yang sama, tim pencari juga menemukan berbagai serpihan yang diduga berkaitan dengan pesawat nahas tersebut. Semua temuan itu menjadi bagian dari upaya besar untuk mengungkap lokasi jatuhnya pesawat beserta para penumpang dan awaknya.

Jepretan yang Menjadi Saksi Sejarah

Setelah foto-foto dari kamera dipindahkan ke laptop, gambar yang diperoleh memberikan gambaran lebih jelas mengenai objek yang terlihat di laut. Sosok manusia dalam foto tersebut tampak telah mengalami pembengkakan, yang mengindikasikan bahwa orang itu kemungkinan sudah meninggal dunia.

Adapun gerakan tangan yang semula terlihat seperti lambaian, kemungkinan terjadi akibat gerakan ombak yang menggoyangkan tubuh di permukaan laut.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa dalam sebuah operasi kemanusiaan, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh peralatan canggih atau teknologi yang rumit. Ketelitian, keberanian, kepekaan terhadap keadaan sekitar, serta kemampuan mengambil keputusan pada saat yang tepat juga memiliki peranan besar.

Kamera yang dipinjam dari seorang wartawan itu menjadi saksi bagaimana sebuah alat sederhana dapat membantu merekam petunjuk penting dalam sebuah misi pencarian yang penuh tantangan.

Di balik sebuah foto, ada kepekaan seorang prajurit. Di balik sebuah temuan, ada tanggung jawab untuk melaporkannya. Dan di balik sebuah keberhasilan, ada kerja sama banyak pihak yang berjuang menjalankan tugas kemanusiaan.

Prestasi dan Perjalanan Pengabdian

Kini, Erwin Tri Prabowo telah menyandang pangkat Letnan Kolonel Penerbang. Pada usia 38 tahun, pencapaian pangkat tersebut menjadi bagian dari perjalanan karier dan pengabdiannya di lingkungan TNI Angkatan Udara.

Tentu, perjalanan seorang prajurit hingga mencapai pangkat tersebut tidak dapat dilepaskan dari pendidikan, latihan, kedisiplinan, pengalaman bertugas, serta tanggung jawab yang terus meningkat. Pengalaman dalam misi pencarian AirAsia QZ8501 menjadi salah satu kisah yang mewarnai perjalanan hidup.

Erwin merupakan anak ketiga dari pasangan almarhum Bambang Hernowo Basuki dan Sri Muntari.

Darah pengabdian kepada bangsa juga mengalir dari garis keluarganya. Sang kakek, almarhum Letkol R. Adam Sutoyo, merupakan prajurit TNI Angkatan Darat.

Latar belakang keluarga tersebut menjadi bagian tersendiri dari kisah kehidupan Erwin. Namun, setiap generasi tetap memiliki perjalanan, perjuangan, dan tanggung jawabnya masing-masing dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.

Kisah Erwin mengajarkan bahwa jalan hidup seseorang tidak selalu terbuka melalui peristiwa besar yang direncanakan.

Terkadang, kesempatan datang melalui kejadian yang tidak terduga—sebuah tugas, sebuah pengamatan, bahkan sebuah kamera pinjaman.

Bagi Erwin, kamera itu bukan sekadar alat untuk mengambil gambar. Kamera tersebut menjadi bagian dari sebuah peristiwa besar yang menuntut kepekaan, ketelitian, dan tanggung jawab seorang prajurit.

Pada akhirnya, prestasi bukan hanya tentang pangkat yang disandang atau jabatan yang diemban. Lebih dari itu, prestasi adalah tentang bagaimana seseorang menjalankan amanah, memberikan manfaat, dan meninggalkan jejak pengabdian bagi bangsa dan sesama.

Sebab, kita tidak pernah tahu dari mana jalan keberhasilan akan datang. Manusia berusaha, kesempatan dijalani, dan hasil akhirnya kita serahkan kepada ketetapan Allah SWT. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *