OPINI  

Mengenang Kisah Lama, Menghangatkan Silaturahmi

Oleh : Suardi, SH

DomaiNesia

Selesai acara Sidang Munaqasyah dan Haul ke-8 Buya Dr. Syekh Salman Da’im di lingkungan Thariqat Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah (TNAJ), Bandar Tinggi, Simalungun, Sumatera Utara, Tuan Guru Kiyai Syattar menerima kunjungan istimewa dari seorang sahabat seperjuangan, teman seangkatan XVI Tahun 2007, yang datang jauh-jauh dari Semarang, Jawa Tengah.

Beliau tidak lain adalah Syekh Muda Mohd. Said.

Kedatangan Syekh Muda Mohd. Said bersama istri bukan sekadar untuk bersilaturahmi. Sang istri turut mengikuti prosesi wisuda sebagai Syarifah Sujinah dalam rangkaian Sidang Munaqasyah dan Haul ke-8 Buya Dr. Syekh Salman Da’im. Selain itu, kehadirannya juga untuk mengikuti acara besar angkatan ke-XXXVI yang dihadiri para tamu dari negeri jiran, Malaysia, serta Prof. Dr. Syekh Ali Masykur Musa, M.Si., M.Hum., Mudir ‘Ali Idarah Aliyah JATMAN Pusat.

Sebuah pertemuan yang mempertemukan kembali sahabat-sahabat lama dalam ikatan persaudaraan, perjuangan, dan kenangan perjalanan spiritual.

Jamuan Persahabatan

Sebagai bentuk penghormatan kepada sahabat seperjuangan, Tuan Guru Kiyai Syattar menjamu Syekh Muda Mohd. Said dan istri di Restoran Sederhana, Jalan Baru Titikuning, Medan.

Dalam suasana penuh keakraban, Tuan Guru Kiyai Syattar didampingi istri tercinta, Syarifah Siti Hadijah Rahmah, sahabat seangkatan Syekh Muda Qamaruddin, serta putranya, Khalifah M. Abdul Hariz.

Tidak ada sekat di antara mereka. Yang ada hanyalah persaudaraan, penghormatan, dan kebahagiaan karena masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali setelah sekian lama menjalani perjalanan masing-masing.

Malam Jumat, 16 Oktober 2026, Syekh Muda Mohd. Said bersama istri diinapkan di rumah khusus tamu milik Tuan Guru Kiyai Syattar di Jalan Mesjid, Batang Kuis, Deli Serdang. Syekh Muda Qamaruddin turut mendampingi dalam suasana kekeluargaan tersebut.

Keesokan harinya, Sabtu, 17 Oktober 2026, sebelum kembali ke Semarang, tamu istimewa itu diajak menikmati sarapan pagi di sebuah warung sederhana di kawasan Pasar 9 Tembung, Deli Serdang.

Warungnya boleh sederhana, tetapi cita rasanya sungguh luar biasa. Kadang-kadang, kenikmatan tidak harus ditemukan di tempat yang mewah. Justru di tempat sederhana, keakraban dan kebahagiaan sering terasa lebih istimewa.

Ketika Kenangan Lama Kembali Bercerita

Usai sarapan, dalam perjalanan pulang dengan mobil, suasana semakin hangat. Tuan Guru Kiyai Syattar mulai membuka lembaran kenangan lama. Cerita demi cerita mengalir, membawa mereka kembali ke masa ketika sama-sama menjalani riadoh dan Suluk di bawah bimbingan Buya Dr. Syekh Salman Da’im.

Ada kisah-kisah yang mungkin telah lama tersimpan, tetapi tetap terasa segar ketika kembali diceritakan. Kisah tentang para murid, pengalaman selama Suluk, dan berbagai kejadian yang kala itu menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Salah satu cerita yang diingat Tuan Guru Kiyai Syattar ialah tentang seorang yang dikenal sebagai orang kepercayaan Buya Dr. Syekh Salman Da’im.

Menurut cerita yang dikenangnya, orang tersebut ketika hendak menghadap untuk menyampaikan khabar, ternyata ditolak. Kajinya tidak naik dan ia diminta kembali.

Hal itu tentu menjadi pengalaman yang tidak mudah diterima. Terlebih, selama ini ia merasa dekat dan kerap berhubungan dengan Buya. Namun, ketika tiba waktunya menyampaikan khabar, justru dirinya tidak diperkenankan menghadap.

Konon, orang itu pun menggerutu dan terus mengomel. Ada rasa heran, kecewa, dan mungkin juga tidak menyangka bahwa dirinya akan mengalami kejadian seperti itu.

Ada pula kisah tentang seorang tunanetra yang hendak menyampaikan khabar. Ia datang dengan seseorang yang menuntunnya. Akan tetapi, ia tidak bersedia dituntun oleh orang tersebut. Akibatnya, khabar yang hendak disampaikannya justru tidak sampai menghadap Buya.

Cerita lainnya tak kalah mengundang senyum. Ada seseorang yang dalam tutur cerita Tuan Guru Kiyai Syattar disebut memiliki pembawaan agak kemayu. Ketika khabarnya ditolak, ia pun menggerutu dan menyebut Buya sebagai orang yang pelit.

Tentu, setiap kisah memiliki latar belakang dan keadaan tersendiri. Karena itu, cerita-cerita tersebut lebih tepat dikenang sebagai pengalaman masa lalu yang menjadi bahan renungan, bukan untuk menghakimi siapa pun.

Bagi mereka yang pernah menjalani perjalanan bersama, kenangan semacam ini justru menjadi bagian dari kekayaan pengalaman. Ada peristiwa yang dahulu membuat kesal, ada yang menimbulkan keheranan, dan ada pula yang setelah bertahun-tahun berlalu akhirnya dapat diceritakan kembali sambil tersenyum.

Persahabatan yang Tetap Terjalin

Pertemuan Tuan Guru Kiyai Syattar dengan Syekh Muda Mohd. Said membuktikan bahwa persahabatan yang tumbuh sangat berkesan.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *