Kajian Tasawuf Ustadz Mahmud Aziz Harahap
Enam puluh tahun beribadah, tetapi hampir binasa karena enam hari enam malam memperturutkan hawa nafsu. Namun, siapa sangka, dua potong roti yang diberikan kepada orang yang membutuhkan justru menjadi penyelamatnya dalam menghadapi hisab Allah.
Kisah penuh hikmah ini disampaikan oleh Ustadz Mahmud Aziz Harahap dalam kajian Minggu pagi, 18 Oktober 2026, di Masjid Jami As-Syakirin, Deli Tua.
Dalam Kajian Tasawuf Kitab Hikmah Bagian ke-50, jamaah diajak merenungkan betapa dahsyatnya hisab Allah. Di hadapan-Nya, setiap amal memiliki perhitungan. Ibadah, dosa, keikhlasan, dan kebaikan yang dilakukan seorang hamba tidak luput dari pengetahuan Allah SWT.
Enam Puluh Tahun Ibadah, Enam Hari Memperturutkan Nafsu
Dikisahkan seorang ahli ibadah yang telah menghabiskan waktu selama 60 tahun untuk beribadah kepada Allah. Tahun demi tahun dilaluinya dalam pengabdian. Namun, pada suatu ketika, ia tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya.
Ia terjerumus ke dalam perbuatan zina dengan seorang wanita selama enam hari enam malam.
Kisah ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang merasa telah banyak beribadah. Sebab, perjalanan panjang dalam ketaatan tidak boleh membuat seseorang lengah terhadap godaan hawa nafsu. Manusia tetaplah makhluk yang harus menjaga hati, memelihara diri, dan memohon pertolongan Allah agar senantiasa istiqamah.
Ada pelajaran penting di sini: jangan pernah merasa aman dari godaan dosa hanya karena telah lama beribadah.
Dua Potong Roti yang Mengubah Timbangan
Namun, kisah ahli ibadah itu belum berakhir.
Di tengah perjalanan hidupnya, ia pernah memberikan dua potong roti kepada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Barangkali bagi manusia, pemberian itu terlihat kecil dan sederhana. Hanya dua potong roti, sesuatu yang mudah dianggap tidak berarti.
Akan tetapi, dalam kisah yang disampaikan pada kajian tersebut, sedekah dua potong roti itu menjadi sebab keselamatannya ketika amal perbuatannya diperhitungkan.
Kebaikan kecil yang dilakukan dengan ketulusan ternyata memiliki makna besar. Apa yang tampak ringan di mata manusia belum tentu ringan dalam timbangan amal di sisi Allah.
Dua potong roti itu menjadi pengingat bahwa sedekah tidak selalu harus berupa harta yang banyak. Memberi makan orang yang lapar, membantu mereka yang kesusahan, dan meringankan beban sesama merupakan amal yang patut dijaga keikhlasannya.
Kita tidak pernah mengetahui amal mana yang akan menjadi sebab turunnya rahmat Allah kepada diri kita.
Hisab Allah, Jangan Meremehkan Dosa dan Kebaikan
Kisah ini mengandung perumpamaan yang menggugah hati. Ibadah selama 60 tahun tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa. Sebaliknya, dosa yang besar juga tidak boleh membuat seseorang berputus asa dari rahmat Allah.
Bisa jadi, sesuatu yang dianggap kecil oleh manusia justru menjadi amal yang besar karena keikhlasan pelakunya dan rahmat Allah yang menyertainya.
Jangan Merasa Aman, Jangan Pula Berputus Asa
Kisah ahli ibadah selama 60 tahun ini mengajak kita bercermin.
Sudahkah ibadah kita menjaga diri dari perbuatan dosa? Sudahkah ilmu yang kita pelajari melembutkan hati? Dan sudahkah tangan kita tergerak membantu orang lain yang membutuhkan?
Jangan merasa aman hanya karena telah lama beribadah.
Jangan meremehkan dosa hanya karena menganggapnya sebentar.
Namun, jangan pula memandang kecil sedekah hanya karena nilainya sedikit.
Sebab, kita tidak mengetahui amal mana yang akan menjadi pemberat timbangan kebaikan kita kelak, dan kita tidak berwenang memastikan bagaimana Allah akan menilai atau mengakhiri perjalanan seseorang.
Enam puluh tahun ibadah mengajarkan kita tentang kesungguhan. Enam hari memperturutkan nafsu mengingatkan kita tentang bahaya kelalaian. Dan dua potong roti mengajarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak patut diremehkan.
Semoga Allah SWT menjaga kita dari godaan hawa nafsu, menerima amal ibadah kita, mengaruniakan keikhlasan dalam bersedekah, dan melimpahkan rahmat-Nya ketika kita menghadapi hisab kelak.Aamiin ya Rabbal ‘alamin.(***)






