MEDAN, Opung News – Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Media Online (DPW IMO) Indonesia Sumatera Utara menggelar diskusi bertajuk Ngobrol Pintar Berkualitas bersama jurnalis senior Asyari Usman di Mie Ayam Jamur Haji Mahmud, Jalan Abdullah Lubis, Medan, Jumat (9/10/2026).
Diskusi tersebut membahas berbagai tantangan jurnalisme online di era digital, mulai dari regulasi pemerintah, keberanian menyuarakan kebenaran, independensi media, hingga integritas dan profesionalisme wartawan.
Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara, HA Nuar Erde, yang juga pemilik media online Penasumut.id, didampingi Sekretaris Harun Al Rasyid, pemilik media BBINews.com, mengatakan diskusi itu menjadi ruang bertukar pengalaman dan pemikiran bagi pengelola media online.
Menurutnya, pengalaman Asyari Usman di dunia jurnalistik, termasuk kiprahnya hingga ke Amerika Serikat dan Inggris, menjadi bekal berharga bagi para peserta untuk memahami tantangan pers dari berbagai perspektif.
“Asyari Usman merupakan wartawan yang meniti karier dari penerjemah di Harian SIB Medan hingga menjadi jurnalis berpengalaman. Beliau pernah meliput sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York dan kemudian bekerja di BBC London sebagai Kepala Divisi Berita Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi motivasi bagi wartawan dan pemilik media yang tergabung dalam DPW IMO Indonesia Sumatera Utara untuk terus meningkatkan kualitas pemberitaan serta menjaga integritas pers.
Kegiatan itu dihadiri sejumlah pengurus dan anggota DPW IMO Indonesia Sumatera Utara, peserta dari Simpul Relawan Anies, serta para pemilik dan pengelola media.
Di antaranya Nurhalim Tanjung, Pemimpin Redaksi Gosujut.com; Maskur Abdullah, Redaktur Pelaksana WaspadaAceh.com; Ansyari Usman, Pemimpin Umum FreedomNews.com; Azrin Marydha, Redaktur Pelaksana Medanpos.com; Masri Efendi Siregar, pemilik Metroonenews.co; Johan Merdeka, pemilik DetikKompas.com; Hendri L. Nainggolan, pemilik BicaraNews.com; Bambang S., pemilik Portalberita.com; serta Rafika, pemilik Laporannusantara.com.
Tantangan Media Online dan Integritas
Dalam pemaparannya, Asyari Usman mengatakan para peserta memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari dunia jurnalistik, bisnis, aktivisme, hingga pemerintahan. Namun, perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan untuk saling berbagi pengalaman dan membangun komunikasi yang positif.
Menurutnya, ada tiga tema penting yang perlu menjadi perhatian bersama, yakni tantangan jurnalisme online, integritas media dalam pemberitaan, serta etika dan profesionalisme wartawan.
Namun, ia menilai pembahasan perlu difokuskan pada tantangan nyata yang dihadapi pengelola media online, termasuk persoalan regulasi, keterbatasan anggaran, persaingan antarmedia, tekanan dari pihak tertentu, dan akses terhadap informasi.
“Tantangan yang dihadapi media online di Medan belum tentu sama dengan media di Jakarta, Kuala Lumpur, Singapura, Belanda, Inggris, maupun Amerika Serikat,” ujarnya.
Karena itu, Asyari mendorong diskusi berlangsung interaktif. Para peserta, khususnya pengelola media online, diharapkan menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi dalam menjalankan kegiatan jurnalistik.
Melalui pertukaran pengalaman tersebut, para peserta diharapkan dapat membandingkan tantangan masing-masing, berbagi strategi penyelesaian, serta menemukan solusi yang dapat diterapkan bersama.
Ia menegaskan, forum tersebut bukan sekadar ruang penyampaian materi satu arah, melainkan wadah untuk mendengarkan pengalaman, bertukar pikiran, dan mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi dunia pers.
Keberanian Bersuara Harus Disertai Tanggung Jawab
Persoalan keberanian menyampaikan pendapat secara terbuka juga menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi tersebut.
Seorang peserta mengungkapkan ketertarikannya terhadap dunia media dan pemberitaan, tetapi masih merasa khawatir untuk menyampaikan pendapat secara terbuka karena adanya risiko yang mungkin dihadapi.
Hal itu menjadi perhatian bersama, mengingat keberanian menyampaikan kebenaran merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Meski demikian, keberanian tersebut harus dibarengi pengetahuan, pemahaman hukum, verifikasi informasi, dan tanggung jawab atas setiap pemberitaan.
Media juga dituntut menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional tanpa mengabaikan etika jurnalistik, keselamatan, serta ketentuan hukum yang berlaku.
Oleh karena itu, pengelola media perlu terus memperkuat independensi jurnalistik dan memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Regulasi Pemerintah dan Kebebasan Pers
Persoalan regulasi pemerintah, termasuk pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan berbagai ketentuan yang berkaitan dengan kegiatan jurnalistik, turut menjadi bahan pembahasan.
Asyari menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjadikan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai salah satu rujukan utama dalam menjalankan kegiatan jurnalistik, dengan tetap memperhatikan kompetensi dan kapasitas wartawan.
Pembahasan tersebut menyoroti perlunya pemahaman yang tepat mengenai perbedaan antara ketentuan perundang-undangan, standar profesional, mekanisme pengujian kompetensi, dan persyaratan administratif yang diterapkan oleh instansi tertentu.
Kebebasan pers dan profesionalisme, menurut pokok pembahasan dalam forum itu, perlu berjalan beriringan. Pers yang merdeka tetap harus menjunjung etika dan tanggung jawab, sementara standar profesional tidak semestinya menjadi alasan untuk membatasi kebebasan pers secara sewenang-wenang.
Melalui diskusi tersebut, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga independensi media, meningkatkan kapasitas jurnalistik, serta membangun hubungan yang sehat antara pers dan pemerintah.
Asyari juga mengajak para wartawan dan pengelola media online untuk terus menjaga nilai-nilai dasar jurnalistik, terutama dalam menghadapi perubahan lanskap media di era digital.( Red)






