Dosen UMSU Yulhasni: Bahasa Indonesia Megah di Dunia, Jangan Kalah di Negeri Sendiri

DomaiNesia

MEDAN, OPUNG NEWS – Pengakuan internasional terhadap bahasa Indonesia harus diikuti dengan komitmen untuk mengutamakan penggunaannya di dalam negeri. Jangan sampai bahasa Indonesia mendapat penghormatan di forum dunia, tetapi justru terpinggirkan di negeri sendiri.

Pesan itu disampaikan dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Yulhasni, dalam momentum peringatan Bulan Bahasa 2026.

“Pengakuan dunia ini kehormatan sekaligus tanggung jawab. Bahasa Indonesia tidak boleh hanya megah di forum internasional, lalu terpinggirkan di rumah sendiri,” tegas Yulhasni.

Menurutnya, pengakuan terhadap bahasa Indonesia di tingkat internasional merupakan capaian yang patut disyukuri.

Bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO pada 2023.

Penggunaan bahasa Indonesia oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam forum UNESCO di Uzbekistan juga menjadi bentuk kebanggaan terhadap bahasa persatuan bangsa.

Namun, Yulhasni mengingatkan bahwa pengakuan tersebut harus dibarengi dengan sikap nyata masyarakat dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Menurutnya, tantangan itu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari penggunaan bahasa pada papan nama usaha, unggahan media sosial, hingga penulisan karya akademik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama, terlebih ketika penggunaan bahasa asing semakin mendominasi berbagai ruang komunikasi masyarakat.

“Kita boleh fasih berbahasa asing, tetapi jangan sampai bahasa sendiri menjadi nomor dua di negeri sendiri. Dunia sudah menghormatinya, masa kita yang mengabaikannya,” ujarnya.

Literasi Harus Diperkuat

Yulhasni menilai, upaya pemerintah memperkuat literasi masyarakat melalui penyediaan buku bacaan bermutu merupakan langkah positif yang perlu didukung. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga telah menyalurkan jutaan buku bacaan ke berbagai wilayah di Indonesia.

Meski demikian, menurutnya, penyediaan buku harus diiringi dengan pembentukan budaya membaca dan menulis secara berkelanjutan, baik di lingkungan sekolah, kampus, maupun keluarga.

“Buku saja tidak cukup jika tidak diikuti kebiasaan membaca dan menulis. Literasi harus menjadi budaya, bukan sekadar program,” katanya.

Ia menambahkan, peringatan Bulan Bahasa yang berlangsung setiap Oktober semestinya tidak hanya diisi dengan perlombaan atau kegiatan seremonial.

Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya bahasa Indonesia sebagai identitas dan pemersatu bangsa.
Bulan Bahasa telah diselenggarakan setiap Oktober sejak 1980. Pada 1989, peringatan tersebut berkembang menjadi Bulan Bahasa dan Sastra.

Semangatnya berakar pada Sumpah Pemuda 1928, khususnya ikrar ketiga yang menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Terapkan Trigatra Bangun Bahasa

Dalam kesempatan itu, Yulhasni juga mengajak masyarakat menerapkan prinsip Trigatra Bangun Bahasa, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.

Menurutnya, ketiga unsur tersebut bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi dalam membangun kemampuan berbahasa masyarakat Indonesia.

“Ketiganya saling menguatkan. Bahasa Indonesia di depan, bahasa daerah dijaga, bahasa asing dikuasai,” tuturnya.

Ia menegaskan, mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti menolak bahasa asing. Sebaliknya, penguasaan bahasa asing tetap penting untuk memperluas wawasan dan meningkatkan daya saing di tingkat global, tanpa mengesampingkan bahasa nasional.

Pesan untuk Mahasiswa dan Calon Guru

Sebagai dosen yang mendidik calon guru bahasa Indonesia, Yulhasni secara khusus mengajak mahasiswa untuk menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia, baik di ruang perkuliahan maupun di luar kampus.

Ia mendorong mahasiswa membiasakan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam diskusi akademik, penulisan karya ilmiah, serta komunikasi di media sosial.

“Mulailah dari diri sendiri. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kelas, di tulisan ilmiah, dan di media sosial. Kalau calon guru bahasa saja tidak bangga dengan bahasanya, siapa lagi?” katanya.

Yulhasni berharap Bulan Bahasa 2026 menjadi momentum untuk membangun kebiasaan berbahasa yang lebih baik, bukan sekadar perayaan tahunan.

Dengan demikian, pengakuan internasional terhadap bahasa Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan di panggung dunia, tetapi juga tercermin dalam kehidupan masyarakat sehari-hari di Tanah Air. ( Red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *