OPINI  

Bencana Sumatera: Antara Takdir Alam dan Ulah Tangan Manusia

Fathan M. Alfarizi,
DomaiNesia

Akhir November 2025, tiga provinsi di Pulau Sumatera-Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami bencana alam secara serentak. Ketiga daerah tersebut dilanda banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh tingginya curah hujan.

Curah hujan yang tinggi disebabkan oleh Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka, yang menarik uap air dalam jumlah besar dan memusatkan presipitasi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Banjir dan tanah longsor merusak fasilitas umum, infrastruktur, serta menenggelamkan sejumlah desa. Dampaknya sangat besar. Menurut data BNPB pada Sabtu (6/12/2025) tercatat 883 orang meninggal dunia, 520 orang hilang, dan 4.200 orang terluka. Selain itu, sebanyak 121.000 unit rumah dilaporkan rusak.

Pada saat ini, pemerintah sudah menyiapkan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam rangka memulihkan kembali kehidupan masyarakat. Masa rehabilitasi ditargetkan selesai dalam waktu 100 hari.

Apakah Bencana Ini Memang Dipicu oleh Faktor Alam?

Pemantik awal bencana ini disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi. Curah hujan yang turun di Pulau Sumatera telah melampaui batas normal. Menurut data meteorologi, beberapa wilayah di Pulau Sumatera terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencatat curah hujan hingga 300 mm per hari. Angka ini tergolong ekstrem untuk wilayah tropis.

Tetapi jika bencana ini benar-benar dipicu oleh faktor alam saja, dampaknya tidak mungkkin sebesar ini. Mengingat, hutan yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air dan penstabil tanah dapat meminimalkan dampak curah hujan tinggi.

Sayangnya, banyak hutan yang seharusnya menjadi resapan air raksasa kini telah gundul. Hilangnya fungsi hutan ini membuat bencana tidak hanya terjadi, tetapi juga meluas dan semakin merugikan.

Laju deforestisasi di Pulau Sumatera dalam kurun waktu satu tahun (2023-2024) mengalami kenaikan. Pada periode tersebut, wilayah Sumatera telah kehilangan sekitar 222 ribu hektare hutan alam.

Dalam grafik bertajuk Rate of Deforestastion in Sumatera Region (Hectares/Year) disebutkan, dalam kurun waktu 2017-2021 laju deforestisasi mencapai 428.232 hektare. Sempat mengalami penurunan dalam kurun waktu 2021-2022 menjadi 96.660 hektare, dan turun lagi pada 2022-2023 menjadi 64.097 hektare.

Namun mengalami peningkatan kembali pada 2023-2024 menjadi 222.360 hektare. Tren serupa juga terjadi jika data dikerucutkan ke tiga provinsi yang terdampak banjir di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dengan rata-rata laju deforestisasi pada kurun waktu 2017-2021 mencapai 139.941 hektare.

Laju ini kemudian mengalami penurunan pada waktu 2021-2022 menjadi 36.343 hektare dan turun lagi pada periode 2022-2023 menjadi 18.762 hektare. Namun, laju tersebut kembali mengalami peningkatan pada periode 2023-2024, menjadi 57.150 hektare.

Peningkatan laju deforestisasi dalam dua tahun terakhir (2023-2024) disebabkan oleh banyak faktor, antara lain industri ekstraktif, yakni PBPH, dan pengalihfungsian lahan menjadi tambang dan kebun sawit.

Pengrusakan Ekosistem Hutan Oleh Tangan Manusia
Kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) disebabkan oleh tangan manusia itu sendiri. Banyak terjadi pembalakan liar pada hutan, serta banyaknya tambang ilegal dan pengalihfungsian lahan menjadi perkebunan sawit membuat hutan menjadi gundul.

Masifnya pengrusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia menjadi faktor terbesar bencana ini mengganas. Pembalakan liar yang masif dilakukan pada Kawasan hutan lindung dan taman nasional membuat benteng alami menjadi rusak. Itu dapat dibuktikan dengan banyaknya gelondongan kayu dari hasil penebangan liar yang terbawa arus banjir.

Akibatnya, dampak bencana yang seharusnya bisa diminimalisir menjadi jauh lebih parah dan sulit dikendalikan. Hilangnya tutupan hutan membuat air hujan tidak lagi terserap dengan baik, sehingga limpasan permukaan meningkat dan memicu banjir bandang di beberapa wilayah. Tanah yang kehilangan penopang akar pepohonan juga menjadi lebih rentan longsor, terutama saat intensitas hujan tinggi.

Selain itu, berkurangnya keanekaragaman hayati memperlemah keseimbangan ekosistem, membuat lingkungan semakin tidak stabil. Semua ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan akibat ulah manusia bukan hanya merusak alam, tetapi juga mengancam keselamatan dan kehidupan masyarakat sekitar. Bencana di Sumatera bukan hanya soal ganasnya alam, tetapi juga akibat ulah manusia yang melemahkan daya tahan lingkungan.

Curah hujan ekstrem memang tak dapat dikendalikan, namun kerusakan hutan dan tata ruang yang buruk memperparah dampaknya. Karena itu, mencegah tragedi serupa berarti memperbaiki perilaku kita sendiri dan memulihkan alam yang telah lama kita abaikan.(***)

Oleh: Fathan M. Alfarizi, Mahasiswa Universitas Jambi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *