OPINI  

Banjir Sumatera Menyurut, Namun Duka Belum Berlalu

DomaiNesia

Kabar terbaru dari Sumatera membawa sedikit kelegaan, di mana banjir yang tadinya merendam ratusan desa di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai terlihat menyurut.

Banjir besar yang memukul telak Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini perlahan- lahan menunjukkan tanda-tanda mereda, membawa sedikit kelegaan bagi ribuan korban dan tim penyelamat.

Di banyak lokasi, permukaan air telah turun drastis, memungkinkan proses
evakuasi, pencarian, dan penyaluran bantuan bisa dilakukan dengan lebih mudah. Surutnya air menandai dimulainya fase pembersihan. Bahkan, markas TNI di Sibolga yang sempat terendam lumpur tebal, kini sudah mulai dibersihkan secara intensif.

Material seperti kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus deras juga mulai disingkirkan. Ini jadi sinyal positif bahwa kondisi di lapangan perlahan mulai stabil dan warga bisa mulai membersihkan tempat tinggal mereka dari sisa-sisa lumpur yang tebal.

Perkembangan ini adalah isyarat awal stabilitas, para
pengungsi mulai berangsur pulang, meski dihadapkan pada pekerjaan rumah yang amat berat membersihkan sisa lumpur tebal dari tempat tinggal mereka.

Namun, di balik kabar baik surutnya air, terbentang kenyataan pahit mengenai besarnya tragedi kemanusiaan yang terjadi. Menurut data terbaru dari BNPB per hari Jumat, 5 Desember 2025, total korban meninggal dunia telah melonjak hingga 867 orang. Angka yang memilukan ini bukan akhir, sebab laporan menunjukkan jumlahnya terus bertambah seiring ditemukannya puluhan jenazah baru yang terperangkap puing dan lumpur.

Selain itu, ratusan warga lainnya masih dinyatakan hilang, menciptakan ketegangan emosional dan trauma mendalam bagi keluarga yang menanti kabar. Bencana ini telah memberikan pukulan psikologis yang membutuhkan pemulihan jangka panjang.

Banjir bandang kali ini memicu perdebatan serius
mengenai akar masalahnya. Para pakar, termasuk dari UGM, sepakat bahwa bencana di Sumatera ini jauh dari sekadar masalah cuaca ekstrem atau hujan deras biasa. Faktor utamanya adalah kerusakan lingkungan di wilayah hulu sungai.

Mereka secara tegas menuding deforestasi masif sebagai biang keladi utama. Hutan, yang seharusnya berfungsi sebagai area resapan air alami, telah rusak parah.

Konsekuensinya, daya tahan tanah terhadap air hujan hilang, menyebabkan air tidak terserap melainkan langsung
meluncur deras ke pemukiman di dataran rendah. Inilah yang mengubah banjir biasa menjadi banjir bandang yang merusak.

Oleh karena itu, bencana di Sumatera ini dilabeli sebagai bencana ekologis, sebuah tragedi yang dipicu oleh campur tangan dan kerusakan ekosistem
oleh manusia, yang kemudian diperparah oleh intensitas curah hujan tinggi.

Dampak fisik bencana ini sangat menghancurkan. Ribuan rumah hancur total, puluhan jembatan putus, dan akses jalan utama lumpuh. Kerusakan infrastruktur ini menjadi penghalang terbesar bagi upaya kemanusiaan, terutama dalam distribusi bantuan di hari-hari awal.

Di lokasi pengungsian, cerita para penyintas menyentuh hati. Banyak yang kehilangan seluruh harta benda dan kini harus bertahan hidup di tenda-tenda darurat dengan segala keterbatasan—berjuang melawan dingin, lapar, dan ketidakpastian masa depan.

Meskipun solidaritas warga lokal telah memberikan dukungan psikologis yang berarti, tantangan mendasar seperti penyediaan makanan, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan masih menjadi masalah krusial yang harus segera ditangani oleh pemerintah dan lembaga
kemanusiaan.

Solidaritas warga lokal yang saling membantu sedikit meringankan beban, tapi kebutuhan dasar tetap jadi tantangan besar. Proses pemulihan yang sesungguhnya dipastikan akan memakan waktu dan sumber daya yang sangat besar (***)

Catatan : Luluk Anjar Sari dari mahasiswi Universitas Jambi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *