YPI : Kekerasan dalam Keluarga Sulit Terdeteksi

Kristina Perangin Angin SE dan Elisabet ( ist )
DomaiNesia

Medan – Opung News : Yayasan Pusaka Indonesia (YPI) mencatat, Pelaku kekerasan justru banyak dilakukan di dalam keluarga. Dan kekerasan dalam keluarga sulit terdeteksi sehingga kekerasan demi kekerasan akan berlangsung lama dialami anak.

Dalam siaran persnya, Kamis (30/6/2022) Direktur YPI Kristina Perangin Angin SE, mengatakan Undang Undang Perlindungan Anak dan Undang Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga harus terus digaungkan agar masyarakat ikut melakukan pengawasan.

“Kita menghargai perhatian pemerintah dengan banyaknya undang-undang dan peraturan yang dilahirkan pemerintah. Dan yang terbaru RUU Kesejahteraan Ibu dan anak (KIA). Tetapi peraturan harus diiringi dengan penegakan, tanpa itu semua hanya sebuah slogan,” ujar Kristina.

Hal lain yang menjadi perhatian YPI adalah persoalan stanting anak. Stanting anak tak hanya disebabkan oleh gizi, tetapi juga dampak dan prilaku orang tua, salah satunya merokok  di rumah. Banyak anak yang terpapar asap rokok dari orangtua. Padahal rokok juga bisa menyebabkan stunting pada anak.

Elisabet Koordinator Program Tobacco Control mengatakan Data Survei Status Gizi Indonesia yang dirilis kementrian kesehatan baru baru ini menyebutkan angka stanting di Sumut mencapai 25,8%.

Tertinggi di Kabupaten Mandailing Natal 47,7%,  Padanglawas 42% dan Pakpak Bharat 40%.

Ia menambahkan Kasus stunting anak juga terdapat di Kota Medan berjumlah 550 tersebar dihampir seluruh kecamatan kecuali Kecamatan Medan Baru.

“Ayah atau Ibu merokok di dalam rumah, itu sama halnya dengan memberikan racun pada anak. Anak sudah terpapar sejak janin, ditambah lagi dengan asupan gizi yang tidak terpenuhi. Artinya hak dasar kesehatan dan tumbuh kembang anak sudah terganggu sejak ia masih dalam kandungan,” ujar Elisabeth.

Baca Juga : Keluarga Besar PWI Sumut Family Gathering di Theme Park

Untuk itu YPI meminta pemerintah memberikan edukasi kepada keluarga, melalui simpul PKK, hingga ke tingkat kelurahan dan RT, untuk menyerukan “Stop merokok di dalam rumah”.

Elisabet juga menambahkan, jika Indonesia serius menjadikan Indonesia bebas dari stunting anak, maka pemerintah juga harus serius menegakan 7 kawasan tanpa rokok, yakni di sarana pendidikan, kesehatan, transportasi, tempat bermain, tempat umum, rumah ibadah dan tempat kerja. Ini akan  menyelamatkan generasi.

Pusaka Indonesia berharap bisa bersinergi dengan pemerintah untuk menekan angka stunting pada anak. Dan keluarga adalah tempat yang paling utama untuk di selamatkan. (Pung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *