Kisah nyata dalam suatu keluarga. Akibat ipar perempuannya kemasukan, istri bolak balik dipanggil dan suaminya ditinggal begitu saja tanpa permisi. Tentunya hal ini menjadikan hubungan yang kurang harmonis. Seharusnya, mau pergi kemanapun, istri wajib permisi dan minta ijin suami. Ini sama sekali tidak. Suami diabaikan begitu saja. Hal ini jelas sangat fatal sekali.
Ceritanya, seorang perempuan—yang masih memiliki hubungan keluarga dengan istri adiknya yang sedang —mengalami kejadian itu sampai melupakan suaminya.
Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Ia tiba-tiba mengalami perubahan yang membuat keluarga panik. Ada yang mengatakan ia kemasukan. Ada yang menyebut kesurupan. Ada pula yang mengaitkannya dengan perkara-perkara yang tidak terlihat.
Keluarga itu sendiri tidak berani memastikan.
Sebab dia bukan ahli dalam perkara itu.
Yang dia tahu, kejadian tersebut benar-benar terjadi dan membuat keluarga mencari berbagai cara untuk menanganinya.
Seorang yang dikenal taat beribadah kemudian memberikan pandangannya. Menurutnya, dalam kehidupan ini ada perkara yang terlihat dan ada perkara yang tidak terlihat. Tetapi semua itu harus disikapi dengan ilmu, bukan sekadar dugaan.
“Jangan sembarangan menuduh,” kurang lebih begitu pesan yang diberikan.
Namun ada satu hal lain yang justru menjadi bagian paling pahit dari kisah ini.
Istri orang tersebut berkali-kali diminta datang ke rumah saudaranya untuk menemani dan membantu menghadapi keadaan tersebut.
Bolak-balik.
Pergi dan kembali.
Sampai akhirnya, sebagai orang itu sebagai suami, merasa seperti ditinggalkan begitu saja.
Bukan karena berarti tidak memahami keadaan keluarga.
Bukan pula karena tidak peduli kepada saudara sendiri.
Tetapi sebagai seorang suami, tentu ada perasaan ketika istri pergi berkali-kali tanpa sempat meminta izin atau sekadar berpamitan.
Di situlah orang itu mulai bertanya kepada diri sendiri:
Apakah sebuah perkara yang dianggap misterius boleh membuat kita melupakan kewajiban dan adab dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan itu ternyata lebih sulit daripada pertanyaan tentang “kemasukan” itu sendiri.
Sebab kita bisa berdebat panjang tentang apakah seseorang benar-benar mengalami gangguan gaib atau tidak.
Tetapi kita juga harus ingat bahwa kehidupan nyata tetap berjalan.
Ada keluarga.
Ada pasangan.
Ada kewajiban.
Ada perasaan orang lain yang juga harus dijaga.
Dan mungkin justru di situlah pelajaran terbesar dari kisah ini.
Kita boleh percaya kepada Allah.
Kita boleh berdoa.
Kita boleh meminta nasihat kepada orang yang memahami agama.
Tetapi jangan sampai ketakutan terhadap sesuatu yang belum kita pahami membuat kita melupakan akal sehat, tanggung jawab, dan adab kepada sesama.
Sebab pada akhirnya, siapa pun kita dan apa pun yang terjadi kepada kita—
kita tetap manusia.
Dan manusia mempunyai kewajiban kepada manusia lainnya.
Sementara urusan perkara gaib?
Serahkan kepada Allah.
Karena Dialah yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Dan mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah:
“Benarkah orang itu kemasukan?”
Melainkan:
“Ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak kita pahami, apakah kita semakin dekat kepada Allah—atau justru semakin jauh dari sesama manusia?” (***)






