Sejak akhir November 2025, sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Utara diterjang bencana besar berupa banjir bandang dan longsor. Hujan deras terus mengguyur dari hari ke hari, memicu meluapnya sungai dan runtuhnya lereng — menyebabkan korban jiwa, kerusakan rumah, serta ribuan warga kehilangan tempat tinggal.
Menurut data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 6 Desember 2025 korban meninggal akibat bencana di seluruh wilayah terdampak di Pulau Sumatra telah mencapai 914 jiwa, dengan provinsi paling parah dampaknya dari segi korban berada di Sumatera Utara — tercatat 329 jiwa meninggal dunia.
Selain korban jiwa, banyak warga mengungsi dan rumah serta fasilitas publik mengalami kerusakan berat.
Situasi di Lapangan: Daerah Paling Parah & Skala Kerusakan
Banjir dan longsor menyapu berbagai wilayah di Sumut — terutama di kawasan perbukitan dan pegunungan yang rawan longsor.
Berdasarkan data evakuasi dan pendataan, beberapa kabupaten/kota tercatat sebagai zona terdampak berat, seperti kawasan di sekitar Tapanuli dan daerah lain di dataran tinggi.
Kerusakan di Sumut meliputi:
Ribuan rumah rusak atau hilang — banyak keluarga kehilangan tempat tinggal sehingga mengungsi.
Fasilitas umum seperti jalan, jembatan, dan fasilitas publik juga rusak, membuat akses logistik dan bantuan darurat sulit.
Ratusan orang luka-luka — selain korban meninggal — serta banyak warga tinggal di pengungsian sementara.
Evakuasi dan pendataan korban terus berlangsung. Tim gabungan dari BNPB, aparat keamanan, relawan, dan pemerintah daerah berupaya menjangkau daerah yang terisolir untuk memberikan bantuan.
Upaya Bantuan & Respons dari Berbagai Pihak
Pemerintah bersama lembaga kemanusiaan telah membuka pos-pos pengungsian, mendirikan dapur umum, serta menyalurkan bantuan pangan, selimut, dan kebutuhan dasar bagi para korban. Logistik disalurkan melalui jalur darat, laut, dan udara ke daerah yang aksesnya terputus.
Di samping itu, sejumlah organisasi dan komunitas juga bergerak membantu korban. Sebagai contoh, GAPKI, melalui program “GAPKI Peduli”, menyalurkan bantuan 10 ton beras bagi korban banjir dan longsor di Sumut.
Meski begitu, skala kerusakan dan banyaknya korban menunjukkan bahwa proses pemulihan akan panjang — terutama bagi keluarga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian.
Kenangan Duka, Peringatan Serius untuk Warga & Pemerintah
Bencana ini menjadi pengingat betapa rentannya wilayah-wilayah di Sumut terhadap banjir bandang dan longsor — terutama saat hujan deras dan curah hujan tinggi. Terlebih di daerah rawan: perbukitan, lereng, dan hulu sungai.
Warga dihimbau untuk tetap waspada, mengikuti arahan dari pemerintah dan petugas kebencanaan, serta menghindari area rawan.
Pemerintah dan otoritas perlu mempercepat rehabilitasi dan mitigasi: memperbaiki sistem drainase, hutan di hulu sungai, dan infrastruktur yang bisa membantu mengurangi risiko bencana di masa depan.
Semoga bantuan cepat sampai ke korban, dan saudara-saudara kita yang terdampak bisa segera kembali ke kehidupan normal.(***)
Oleh : Rotua Krisanta Br. Simangunsong ( Mahasiswa universitas Jambi)






